Seorang pacar sahabat pernah berkata, " jika seorang manusia tak tahu apa tujuan hidupnya di umur 23, then he/she won't be something".
Dan sekarang, ketika umur 24 tinggal satu semester, dan 23 tahun hidup masih mencari tujuan, i finally understand what he's talking about. Dengan step-step kehidupan yang semakin complicated, tanpa arah yang jelas, susah untuk berfokus pada cita-cita dan realita. Terutama ketika deplu sudah mulai buka lowongan.
Sepertinya langkah sudah di hadapan mata, setahun dikarbit menjadi banker cukup membuat ilmu ekonomi saya terasah. Dibandingkan 4 tahun mendalami teori HI, pelajaran setahun kemarin terasa lebih nyata. Namun ketika mata menatap kekejian teroris bom Ritz Carlton, hati saya meloncat, tertegun how much i miss those time. Mengupas kejadian-kejadian politik Indonesia, mengupas social behaviour grassroots terrorism, mengupas hubungan internasional, dan hey, apa itu di running text? "tes cpns deplu dibuka : www.deplu.go.id / www.tvone.com dari hp anda"
IS IT A SIGN? IS IT IS IT????
i don't know, if i'm ready. Mengabdi pada negara sama dengan merelakan gaji saya yang sudah merangkak naik, dan harus terjun bebas menjadi 1/4 kalinya. Mengabdi pada negara yang harus merelakan saya mungkin harus berpisah dengan comfort zone yang susah payah dibangun, mengabdi pada negara yang mungkin akan memisahkan hati dari kekasih yang terlanjur jadi enterpreneur. I see no future. I wish i were Mama Lauren :P
again, it's a QLC. Quarter Life Crisis.
I'll give it all up to God.
No comments:
Post a Comment