Sekarang ini gue sedang "mempersiapkan" 3 pernikahan. Not my wedding, but my best friends'.
Beberapa steps yang kentara banget dari bridezillas itu mostly mirip -sampeeeeeeee apal benerrr-, i.e:
1. "Karin, temenin belanja seserahan yaaaa"
-dan jadilah eke nyamuk yang menemani mereka (couples) belanja,red-
List of gifts include toiletteries, lingerie, make up, office wear, shoes & bag, dan masih banyak lagi tergantung lakinya mau ngasi apa.
2. Keluarga sana ribet deh ternyataa!!
EMBERAN! most of my friend merasa seperti ini. Tapi ya emangnya gue udah nikah? bisa ngasi saran apaaa? jadilah gue diemin.. logikanya sih, mau gamau deal with big family ya harus deal with banyak karakter yang gak semuanya sejalan.
3. Kadang gue merasa sayang duit ratusan juta buat resepsi, padahal mendingan buat DP rumah
Kalo dikata gue siap kawin apa engga? siap siap aja mau minggu depan juga
4. Dan berbagai PING! Lainnya, yang mostly ada di malam hari. ketauan kalau lagi galau sendirian sebelum tidur
Tapi hari ini ada yang beda dari Bridezilla #3. (dimana kalo lo baca ini, maaf ajeeee ya neng, ik ga tahan kalo ga sharing):
Her : Kariiiin dimanaaaa gua galauu...
Me : Knaposeh lo? Tumben-tumbenan galau..
Her: Ngapainnnn sih kawinnn?
Me: Whaaaat?
Her: Ngapainnn gua kawin, ini bukan prioritas guaaaa!!
Me : Please jangan cold feeeeeeet!!!
(dan berlanjut chat panjang, which made me think -as always-)
The common Qs are:
"What if my future wife/hb isn't the right match? or what if i'm just not ready for marriage? I was a pride, single lady surrounded by men, now, should i committed to one?"If only i can answer that, my friend! I'm not even a Bridezilla, tapi that Qs menghantui hidup seumur-umur gak sih?
Believe me if i could back to 2003 myself, i'd choose what my psychologist offered me before i choose my Uni major :
"Karina, based on your strength, you could choose either be a psychologist, or PR. Not a Doctor"(dan jreng bener aja ga keterima FK! Keterimanya Fikom UNPAD, Psikologi Marnat, dan HI Unpar). Tapiiiiiii, kalo boleeeee milih, mending gueee jadi psikolog aja, bisa ambil profesi.
Dan anyway, teman penulis gue, Syarif, menumpahkan perasaannya sebelum melepas masa lajangnya di sini. It's a good writing, and you might love the twist on it. :)

No comments:
Post a Comment